Kamis, 30 Juli 2015

BERMAIN DAN BERTEMAN ITU PENTING


Sudah menjadi kesepakatan aku dan suami bahwa “berteman dan bergaul” adalah salah satu unsur penting yang akan kami masukkan dalam daftar cara mendidik, mendampingi tumbuh dan berkemabngnya anak-anak kami Kalle, Abrisam dan Khalilla.

Karena itu aku bahkan sudah menerapkan stimulasi pra lahir ketika anak-anakku masih dalam kandungan. Salah satu contohnya adalah mengajaknya berkomunikasi “ Kakak, pagi yang cerah ini Bunda akan mengajakmu jalan-jalan keliling komplek yaa, wah udaranya segar nih Bunda jadi bahagia” begitu ungkapku sembari kuelus perutku dan mengusapnya dengan penuh sayang.

Begitu pula ketika dia terlahir kedunia....

Perkenalannya dengan lingkungan lebih kuperluas, aku ikutsertakan Kakek, nenek, tante juga Omnya juga para sepupu dan keponakkanku menjadi bagian dari lingkungan anakku yang begitu menyayanginya.

Seiring pertumbuhan dan perkembangannya...

Aku juga mengenalkan pada teman-teman sebayanya, mulai dari jalan pagi, ngumpul ditaman komplek sembari berbagi ilmu dengan para Moms yang lain, mengajak teman bermain kerumahnya, atau sesekali mengijinkan anak-anakku bermain kerumah temannya. Tak lupa aku memberinya kesempatan dan menumbuhkan rasa percaya dirinya dengan cara menjaga jarak ketika dia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Agar dia lebih mandiri dan bisa berekspresi dengan kemampuan bersosialisasinya.

Meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak tentang teman-temannya adalah moment indah yang paling aku dan suamiku tunggu. Tak lupa sembari memberikan senyum, peluk dan cium kamipun memberikan pujian dan kata-kata positif untunya. Karena bagi kami bermain adalah proses belajar yang akan memberikan kontribusi penting pada pembentukkan karakter kepribadian Kalle, Abrisam dan Khalilla.

Rabu, 01 Januari 2014

PERAN ILMU PSIKOLOGI DIDUNIA KEPERAWATAN




A.    Pengertian Psikologi
                    Psikologi berasal dari kata Psyche = Jiwa dan Logos = Ilmu. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Perbedaan Psikologi dengan Ilmu Jiwa yaitu, psikologi adalah istilah untuk ilmu pengetahuan yang diperoleh secara sistematis dan menggunakan metode ilmiah; sedangkan ilmu jiwa menurut norma-norma ilmiah modern yang merupakan istilah dalam bahasa indonesia berisi segala pemikiran, tanggapan, khayalan, dan spekulasi mengenai ilmu jiwa pada umumnya. Berikut ini pengertian psikologi menurut para ahli:

1.     S. Freud : Psikologi adalah ilmu tentang ketidaksadaran manusia.
  1. Descartes dan Wundt (Davidoff, 1981) : Psikologi adalah ilmu tentang kesadaran manusia.
  2. Branca (1964) & Sartain DKK (1967) : Psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku (overt behavior &  inner behavior).
  3. Woodworth & Marquis (1975) : Psikologi adalah ilmu tentang aktivitas aktivitas individu (motorik, kognitif dan emosional).
  4. Morgan dkk (1984) : Psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku manusia dan hewan.

B.     Ciri-ciri psikologi
1.      Mempunyai objek tertentu
         Obyek material = Manusia
         Obyek formal = Jiwa/psikis
2.      Metode pendekatan/penelitian tertentu
3.      Sistematika yang teratur
4.      Mempunyai sejarah atau riwayat tertentu.

Tugas  psikologi sebagai ilmu :
1.     Mengadakan deskripsi (menggambarkan secara jelas masalah yang dipersoalkan)
2.     Menerangkan (menjelaskan keadaan yang mendasari terjadinya peristiwa tersebut)
3.     Menyusun teori (mencari dan merumuskan hukum/ketentuan hubungan keadaan satu dengan keadaan lainnya).
4.      Prediksi (meramalkan gejala atau peristiwa yang akan terjadi)
5.      Pengendalian (mengatur peristiwa atau gejala)

C. PERAN DAN FUNGSI PERAWAT 


Peran Perawat :
1. Peran sebagai pemberi Asuhan Keperawatan.
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan memeprhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bias direncakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.

10 Faktor Asuhan dalam Keperawatan :
1. Menunjukkan system nilai kemanusian dan altruisme.
2. Memberi harapan dengan :
- mengembangkan sikap dalam membina hubungan dengan klien
- memfalitasi untuk optimis
- percaya dan penuh harapan
3. Menunjukkan sensivitas antara satu dengan yang lain.
4. Mengembangkan hubungan saling percaya : komunikasi efektif, empati, dan hangat.
5. Ekspresi perasaan positif dan negative melalui tukar pendapat tentang perasaan.
6. Menggunakan proses pemecahan mesalah yang kreatif
7. Meningkatkan hubungan interpersonal dan proses belajar mengajar
8. Memeberi support, perlindungan, koreksi mental, sosiokultural dan lingkungan spiritual
9. Membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia
10. Melibatkan eksistensi fenomena aspek spiritual.

Kekuatan dalam Asuhan :
1. Aspek Transformasi
Perawat membantu klien untuk mengontrol perasaannya dan berpartisipasi aktif dalam asuhan.
2. Integrasi asuhan
Engintegrasikan individu ke dalam sosialnya.
3. Aspek Pembelaan
 Membatu
à4. Aspek penyembuhan klien memilih support social, emosional, spiritual.
5. Aspek Partisipasi.
6. Pemecahan masalah dengan metoda ilmiah.

2. Peran Sebagai Advokat ( Pembela) Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam meninterpretasikan berbagia informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasiennya, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.

3. Peran Sebagai Edukator
Peran ini dilakukan untuk :
1. Meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan dan kemampuan klien mengatasi kesehatanya.
2. Perawat memberi informasi dan meningkatkan perubahan perilaku klien

4. Peran Sebagai Koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemeberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.
Tujuan Perawat sebagi coordinator adalah :
a. Untuk memenuhi asuhan kesehatan secara efektif, efisien dan menguntungkan klien.
b. Pengaturan waktu dan seluruh aktifitas atau penanganan pada klien.
c. Menggunakan keterampilan perawat untuk :
- merencanakan
- mengorganisasikan
- mengarahkan
- mengontrol

5. Peran Sebagai Kolaborator
Perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter fisioterapis, ahli gizi, dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.

6. Peran Sebagai Konsultan
Peran disini adlah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.

7. Peran Sebagai Pembeharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
Peran perawat sebagai pembeharu dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya :
- Kemajuan teknologi
- Perubahan Lisensi-regulasi
- Meningkatnya peluang pendidikan lanjutan
- Meningkatnya berbagai tipe petugas asuhan kesehatan.

Selain peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan, terdapat pembagian peran perawat menurut hasil lokakarya keperawatan tahun 1983 yang membagi menjadi 4 peran diantaranya peran perawat sebagai pelaksana pelayanan keperawatan, peran perawat sebagai pengelola pelayanan dan institusi keperawatan, peran perawat sebagai pendidik dalam keperawatan serta peran perawat sebagai peneliti dan pengembang pelayanan keperawatan.


Fungsi Perawat :

1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit, pemenhuan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktivitas, dan lain-lain), pemenuhan kebutuhan keamanan dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.

2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain. Sehingga sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Hal ini biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.

3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang ber sifat saling ketergantungan di antara tam satu dengan lainya fungsa ini dapat terjadi apa bila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderaita yang mempunyai penyskit kompleks keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainya, seperti dokter dalam memberikan tanda pengobatan bekerjasama dengan perawat dalam pemantauan reaksi obat yang telah di berikan.

CLIENT ADVOCATE
Sebagai penghubung antara  klien dengan tim kesehatan lain
Membela kepentingan klien dan membantu klien
Menjadi nara sumber dan fasilitator
Melindungi dan memfasilitasi keluarga  dan masyarakat dalam pelayanan kes.
Melindungi hak-hak klien
Hak-hak klien
Hak atas informasi
Mendapatkan pelayanan yg manusiawi, adil dan jujur serta bermutu sesuai dgn standar
Hak atas persetujuan dan atau penolakan
Hak atas keselamatan dan keamanan
Hak atas rahasia medik dll
CONSELOR
Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya
Membimbing klien, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan
Membantu meningkatkan kemampuan adaptasi

EDUCATOR
Mendidik klien , keluarga dan masyarakat menuju hidup sehat, mandiri
COLLABORATOR
Bekerjasama dgn tim kesehatan lain dan keluarga dalam menentukan pelaksanaan asuhan guna memenuhi kebutuhan klien
COORDINATOR
Memanfaatkan semua sumber2 dan potensi yg ada utk :
                        - mengkoordinasi seluruh yankep
                        - mengatur tenaga kep yg akan  bertugas
                        - mengembangkan sistem yankep
CHANGE AGENT
Mengadakan inovasi dalam cara berfikir, bersikap dan bertingkah laku
Meningkatkan keterampilan klien dan keluarga agar menjadi sehat
CONSULTANT
Menjadi sumber informasi yg berkaitan dengan kondisi klien
C.FUNGSI PERAWAT
Dalam menjalankan perannya perawat akan melaksanakan berbagai fungsi  diantaranya :
Fungsi independen
Fungsi dependen
Fungsi interdependen
Fungsi independen
Fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Mandiri
   Perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri  dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan  dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar  manusia.
Kebutuhan Dasar Manusia
Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan keamanan dan kenyamanan
Kebutuhan mencintai dan dicintai
Kebutuhan harga diri
Aktualisasi diri
Fungsi dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya  atas pesan atau instruksi dari perawat lain.
Pelimpahan tugas diberikan.Biasa dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
Fungsi interdependen
Dilakukan dalam kelompok tim yang saling ketergantungan  diantara tim satu dengan tim lainnya.
Fungsi ini terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim  dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita  yang mempunyai penyakit kompleks.
TANGGUNG JAWAB PERAWAT
Pemberi asuhan keperawatan
Meningkatkan Pengetahuan
Meningkatkan diri sebagai profesi

C.    Peran Psikologi dalam Dunia Keperawatan (Kesehatan)

Berikut peranan psikologi dalam keperawatan:
1.      Terjalinnya hubungan interpersonal.
Hubungan interpersonal didukung oleh keterbukaan perawat. Perawat membuka diri tentang pengalaman yang berguna untuk terapi klien. Tukar menukar pengalaman ini memberikan keuntungan pada klien untuk mendukung kerjasama dan memberi dukungan. Melalui penelitiaan ditemukan bahwa peningkatan keterbukaan antara perawat dan klien menurunkan tingkat kecemasan perawat dan klien.
Tujuan terjalinnya hubungan interpersonal antara lain:
Menyenangkan hati klien.
Mengetahui dan mengerti pembicaraan.
Memberikan rasa puas pada klien.
Memberikan rasa aman pada pembicara.
Menunjukkan rasa saling percaya.
Menghargai pembicaraan.
2.      Komunikasi yang baik antara perawat dengan klien (empati).
Rasakan apa yang dirasakan klien. Perawat yang merasakan apa yang dirasakan klien akan mampu mengkomunikasikan dengan seluruh sikap tubuhnya kepada klien. Perawat menyampaikan bahwa ia sungguh mengerti perasaan, tingkah dan pengalaman klien, dan mengkomunikasikan pengertian itu kepada klien. Sehingga klien merasa bahwa ia dimengerti. Melalui penelitian, Mansfield mengidentifikasi perilaku verbal dan non verbal yang menunjukkan tingkat empati yang tinggi sebagai berikut:
a.       Memperkenalkan diri dengan klien.
b.      Kepala dan badan membungkuk kearah klien.
c.      Respon verbal terhadap pendapat klien, khususnya pada kekuatan dan sumber daya klien.
d.     Kontak mata dan respon pada tanda non verbal klien, misalnya nada suara,gelisah, ekspresi wajah.
e.     Tunjukkan perhatian, minat, kehangatan melalui ekspresi wajah.
f.      Nada suara konsisten dengan ekspresi wajah dan respon verbal.
3.     Adanya rasa saling percaya antara perawat dan klien.
Rasa saling percaya sangat dibutuhkan guna tercipta rasa percaya bahwa segala yang dilakukan perawat adalah untuk kesembuhan, kenyamanan dan keamanan klien sehingga tidak terjadi salah paham antara tugas-tugas perawat pada klien. Selain itu antara perawat dan klien dapat tercipta kedekatan layaknya keluarga sendiri. Hal ini berguna agar tercipta rasa nyaman dan aman pada klien.
4.      Adanya motivasi yang muncul dari perawat untuk mempercepat kesembuhan klien. Motivasi yang datang dari perawat untuk klien antara lain:
a.       Menghindari sikap negatif.
Contoh :
  Menyatakan hal-hal yang dapat menimbulkan kekhawatiran dan keputusasaan.
  Menyinggung pasien.
  Berkata kasar.
  Merasa jijik atau aneh.

b.      Menghibur klien.
Contoh :
  Menjaga selera humor.
  Mengajak klien untuk bersenda gurau.
c.       Meyakinkan kesembuhan klien.
Contoh :
  Berdo’a untuk kesembuhan klien.
  Menyapa dengan senyuman.

Psikologi Keperawatan dikembangkan untuk memahami pengaruh psikologis terhadap bagaimana seseorang menjaga dirinya agar tetap sehat, dan mengapa mereka menjadi sakit dan untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan saat mereka jatuh sakit. Selain mempelajari hal-hal tersebut di atas, psikologi keperawatan mempromosikan intervensi untuk membantu orang agar tetap sehat dan juga mengatasi kesakitan yang dideritanya.
Psikologi keperawatan tidak mendefinisikan “sehat” sebagai tidak sakit. Sehat dilihat sebagai pencapaian yang melibatkan keseimbangan antara kesejahteraan fisik, mental dan sosial. Psikologi keperawatan mempelajari seluruh aspek kesehatan dan sakit sepanjang rentang hidup. Psikologi keperawatan berfokus pada pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, seperti bagaimana mendorong anak mengembangkan kebiasaan hidup sehat, bagaimana meningkatkan aktivitas fisik, dan bagaimana merancang suatu kampanye yang dapat mendorong orang lain memperbaiki pola makannya.
Psikologi keperawatan juga mempelajari aspek-aspek psikologis dari pencegahan dan perawatan sakit. Seorang psikolog kesehatan misalnya, membantu mereka yang bekerja di lingkungan yang memiliki tingkat stress yang tinggi untuk mengelola stress dengan efektif, sehingga tekanan yang dialami di lingkungan kerja tidak mempengaruhi kesehatan mereka. Seorang psikolog kesehatan juga dapat bekerja dengan mereka yang sedang menderita suatu penyakit agar dapat menyesuaikan mental dan fisik mereka dengan penyakit tersebut atau untuk mematuhi treatment yang dirancang oleh dokter yang merawatnya.
Psikologi keperawatan juga berfokus pada etiologi dan kaitannya dengan kesehatan, sakit dan disfungsi. Etiologi merujuk pada asal dan penyebab sakit, dan psikolog kesehatan secara khusus tertarik pada faktor-faktor perilaku dan sosial yang menyumbang kesehatan dan sakit dan disfungsi. Faktor-faktor tersebut meliputi kebiasaaan yang merusak atau menunjang kesehatan seperti konsumsi alkohol, merokok, olahraga, mengenakan sabuk pengaman, dan cara-cara ‘berkawan’ dengan stress.
Peranan Psikologi dalam dunia keperawatan sangat besar. Hal tersebut disebabkan karena peran psokologis seseorang selalu menyertai diri, sejak mulai merasakan sakit kemudian masuk rumah sakit hingga keluar dari rumah sakit dan sembuh. Psikologi keperawatan menganalisa dan berusaha meningkatkan system perawatan kesehatan dan merumuskannya dalam kebijakan kesehatan.Selain itu, dengan ilmu psikologi kita dapat lebih memahami kepribadian dan tingkah laku pasien sehingga kita dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan sudut pandang yang berbeda.





DAFTAR PUSTAKA

diakses tgl 10 Agustus 2012 pkl. 17.50 WIB

diakses tgl 10 Agustus 2012 pkl. 17.50 WIB