Berpura – pura (malingering)
ditandai oleh pembentukan dan penunjukkan gejala fisik atau psikologis yang
palsu atau sangat dibesar-besarkan yang disengaja. Pasien selalu memiliki
motivasi eksternal, yang masuk kedalam salah satu dari tiga kategori: (1) untuk
menghindari situasi, tanggung jawab atau hukuman yang sulit dan berbahaya; (2)
untuk mendapatkan ganti rugi, ruang atau tempat, (3) untuk membalas dendam jika
pasien merasa bersalah atau menderita kerugian, keputusan hokum atau
kehilangan.
EPIDEMIOLOGI
Insiden
berpura-pura adalah tidak diketahui, tetapi sering ditemukan. Keadaan ini
paling sering terjadi dalam lingkungan dengan jumlah laki-laki yang lebih banyak,
walaupun kondisi ini juga bias terjadi pada wnita.
Ciri utama dalam
berpura-pura adalah dihasilkannya gejala fisik atau psikologis yang palsu atau
dibesar-besarkan yang disengaja, yang dimotivasi oleh insentif eksternal
seperti menghindari pekerjaan, mendapatkan kompensasi financial, menghindari
hukuman. Dalam beberapa keadaan dapat mewakili perilaku adaptif.
Berpura – pura harus
dicurigai dengan baik jikaditemukan salah satu kombinasi dari hal berikut ini :
1.
Konteks presentasi yang medikolegal (misalnya
orang yang dikirim oleh seorang pengacara kepada dokter untuk diperiksa).
2.
Ketidak sesuaian yang jelas antara stress atau
ketidak mampuan yang dikeluhkan orang tersebut atau temuan objektif.
3.
Tidak adanya kerja sama selama pemeriksaan diagnostic
dan dalam mematuhi regimen pengobatan yang dianjurkan.
4.
Adanya gangguan antisocial.
Banyak orang
berpura-pura mengekspresikan gejala yang sebagian besar adalah subjektif,
samar-samar, tidak jelas.
Bohong untuk beberapa orang mungkin dianggap
biasa, tapi ada juga orang yang susah untuk berbohong. Banyak sebab yang bisa
menjadi dasar orang berbohong. Alasan itu bisa dibuat apa saja walau intinya
tetap sama yaitu Bohong. Seringkali malah ada orang yang mengatakan kalau ada
kebohongan putih alias White Lie.
Alasan Bohong
Ada beberapa alasan orang berbohong.
Seringkali hal tersebut disebabkan rasa takut. Ini yang merupakan alasan paling
sering mengapa orang bisa berbohong. Kebohongan biasanya disebabkan karena
orang tersebut ingin menghindarkan diri dari suatu hukuman. Contohnya seorang
anak yang mengatakan kepada orang tuanya bahwa nilainya di ujian baik padahal
ternyata tidak lulus. Anak melakukan ini karena dia takut mendapatkan hukuman
dari orang tua terkait nilainya yang buruk.
Kondisi kebohongan karena takut seperti ini
bisa mereka sadari sebagai sesuatu yang tidak baik tetapi dia terpaksa
melakukannya. Lebih baik lagi jika kondisi ini mengarah kepada perbaikan diri.
Artinya, si anak kemudian sadar telah berbohong dan ingin agar dia tidak
berbohong lagi maka harus belajar yang lebih baik lagi.
Tetapi, ada kalanya hal ini tidak terjadi dan
si orang tersebut malah akan menutupi kebohongan yang satu dengan yang lainnya.
Dalam hal ini timbul apa yang disebut sebagai kebiasaan berbohong. Kondisi
berbohong yang tipe kedua ini sering kali bersifat kompulsif artinya bahkan
kadang dilakukan secara otomatis tanpa berpikir lagi.
Bahkan, ketika dihadapkan pada kenyataan dan
kebenaran yang menentang kebohongannya, orang tersebut tetap bersikeras dengan
kebohongannya. Hal ini bisa disebabkan karena si orang ini sudah sangat
terbiasa berbohong sehingga tidak sulit baginya untuk meneruskan kebiasaan itu
bahkan sudah berlangsung secara di bawah sadar dan otomatis.
Kondisi ketiga yang membuat orang berbohong
adalah melalui model perilaku. Ketika orang melihat orang lain berbohong,
terutama ketika mereka melihat orang yang berbohong ternyata mampu mengelabui
orang lain maka dia akan mudah meniru perilaku itu. Seringkali kebohongan juga
disebabkan karena ketika mereka berbohong maka mereka mendapatkan apa yang
diinginkan. Dalam artian bagi sebagian orang, kebenaran ternyata tidak
menghasilkan sesuatu yang diharapkan. .
Gangguan Jiwa Terkait Bohong
Kebohongan ternyata banyak terjadi pada
beberapa kondisi gangguan kejiwaan seperti gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktifitas (dalam bahasa inggris disebut ADHD) dan gangguan bipolar. Ketika
anak dengan ADHD sering berkatan “Aku tidak tahu mengapa aku melakukan itu” dan
ketika dihadapkan pada kenyataan kebenaran, mereka juga akan mengatakan mereka
tidak tahu mengapa berbuat itu. Pada anak-anak, ADHD juga sering kebohongan ini
terjadi impulsif dan tidak bisa dikendalikan.
Gangguan bipolar juga sering bertindak
impulsif yang membuatnya juga menjadi lebih mudah melakukan kebohongan pada
beberapa kondisi tertentu. Kondisi ini sering kali merupakan bagian dari
patologis kejiwaannya di mana kondisi ini terjadi pada saat fase manik ketika
terjadi eksitasi perasaan yang berlebihan, yang kadang sedikit menyerupai
omongan-omongan yang berisi bualan.
Gangguan kejiwaan yang sering kali dikaitkan
dengan suatu kondisi manipulatif juga biasanya sangat sering dikaitkan dengan
mudahnya pasien berbohong. Pasien dengan gangguan perilaku (conduct disorder) bisa melakukan
kebohongan demi menutupi kesalahan-kesalahan yang terjadi. Kondisi ini biasanya
terjadi pada masa remaja dan berlanjut ke masa dewasa muda.
Selain itu, gangguan kepribadian anti sosial
yang sering disebut sebagai psikopat juga sering melakukan kebohongan dalam
kehidupan sehari-harinya. Uang, seks dan kekuasaan adalah motif di balik semua
kebohongan yang dilakukan oleh orang dengan kepribadian anti sosial. Kebohongan
ini biasanya dilakukan tanpa merasa bersalah dan menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari bagian sakitnya sehingga sepertinya kehidupan orang ini pun
dalam kebohongan yang sudah kadang sulit dipisahkan dari kebenaran yang ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar