Kamis, 19 Desember 2013

BERPURA – PURA, BERBOHONG APAKAH TERMASUK GANGGUAN JIWA?



Berpura – pura (malingering) ditandai oleh pembentukan dan penunjukkan gejala fisik atau psikologis yang palsu atau sangat dibesar-besarkan yang disengaja. Pasien selalu memiliki motivasi eksternal, yang masuk kedalam salah satu dari tiga kategori: (1) untuk menghindari situasi, tanggung jawab atau hukuman yang sulit dan berbahaya; (2) untuk mendapatkan ganti rugi, ruang atau tempat, (3) untuk membalas dendam jika pasien merasa bersalah atau menderita kerugian, keputusan hokum atau kehilangan.
EPIDEMIOLOGI
Insiden berpura-pura adalah tidak diketahui, tetapi sering ditemukan. Keadaan ini paling sering terjadi dalam lingkungan dengan jumlah laki-laki yang lebih banyak, walaupun kondisi ini juga bias terjadi pada wnita.
Ciri utama dalam berpura-pura adalah dihasilkannya gejala fisik atau psikologis yang palsu atau dibesar-besarkan yang disengaja, yang dimotivasi oleh insentif eksternal seperti menghindari pekerjaan, mendapatkan kompensasi financial, menghindari hukuman. Dalam beberapa keadaan dapat mewakili perilaku adaptif.
Berpura – pura harus dicurigai dengan baik jikaditemukan salah satu kombinasi dari hal berikut ini :
1.       Konteks presentasi yang medikolegal (misalnya orang yang dikirim oleh seorang pengacara kepada dokter untuk diperiksa).
2.       Ketidak sesuaian yang jelas antara stress atau ketidak mampuan yang dikeluhkan orang tersebut atau temuan objektif.
3.       Tidak adanya kerja sama selama pemeriksaan diagnostic dan dalam mematuhi regimen pengobatan yang dianjurkan.
4.       Adanya gangguan antisocial.
Banyak orang berpura-pura mengekspresikan gejala yang sebagian besar adalah subjektif, samar-samar, tidak jelas.
Bohong untuk beberapa orang mungkin dianggap biasa, tapi ada juga orang yang susah untuk berbohong. Banyak sebab yang bisa menjadi dasar orang berbohong. Alasan itu bisa dibuat apa saja walau intinya tetap sama yaitu Bohong. Seringkali malah ada orang yang mengatakan kalau ada kebohongan putih alias White Lie.
Alasan Bohong
Ada beberapa alasan orang berbohong. Seringkali hal tersebut disebabkan rasa takut. Ini yang merupakan alasan paling sering mengapa orang bisa berbohong. Kebohongan biasanya disebabkan karena orang tersebut ingin menghindarkan diri dari suatu hukuman. Contohnya seorang anak yang mengatakan kepada orang tuanya bahwa nilainya di ujian baik padahal ternyata tidak lulus. Anak melakukan ini karena dia takut mendapatkan hukuman dari orang tua terkait nilainya yang buruk.
Kondisi kebohongan karena takut seperti ini bisa mereka sadari sebagai sesuatu yang tidak baik tetapi dia terpaksa melakukannya. Lebih baik lagi jika kondisi ini mengarah kepada perbaikan diri. Artinya, si anak kemudian sadar telah berbohong dan ingin agar dia tidak berbohong lagi maka harus belajar yang lebih baik lagi.
Tetapi, ada kalanya hal ini tidak terjadi dan si orang tersebut malah akan menutupi kebohongan yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini timbul apa yang disebut sebagai kebiasaan berbohong. Kondisi berbohong yang tipe kedua ini sering kali bersifat kompulsif artinya bahkan kadang dilakukan secara otomatis tanpa berpikir lagi.
Bahkan, ketika dihadapkan pada kenyataan dan kebenaran yang menentang kebohongannya, orang tersebut tetap bersikeras dengan kebohongannya. Hal ini bisa disebabkan karena si orang ini sudah sangat terbiasa berbohong sehingga tidak sulit baginya untuk meneruskan kebiasaan itu bahkan sudah berlangsung secara di bawah sadar dan otomatis.
Kondisi ketiga yang membuat orang berbohong adalah melalui model perilaku. Ketika orang melihat orang lain berbohong, terutama ketika mereka melihat orang yang berbohong ternyata mampu mengelabui orang lain maka dia akan mudah meniru perilaku itu. Seringkali kebohongan juga disebabkan karena ketika mereka berbohong maka mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam artian bagi sebagian orang, kebenaran ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan.  .
Gangguan Jiwa Terkait Bohong
Kebohongan ternyata banyak terjadi pada beberapa kondisi gangguan kejiwaan seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas (dalam bahasa inggris disebut ADHD) dan gangguan bipolar. Ketika anak dengan ADHD sering berkatan “Aku tidak tahu mengapa aku melakukan itu” dan ketika dihadapkan pada kenyataan kebenaran, mereka juga akan mengatakan mereka tidak tahu mengapa berbuat itu. Pada anak-anak, ADHD juga sering kebohongan ini terjadi impulsif dan tidak bisa dikendalikan.
Gangguan bipolar juga sering bertindak impulsif yang membuatnya juga menjadi lebih mudah melakukan kebohongan pada beberapa kondisi tertentu. Kondisi ini sering kali merupakan bagian dari patologis kejiwaannya di mana kondisi ini terjadi pada saat fase manik ketika terjadi eksitasi perasaan yang berlebihan, yang kadang sedikit menyerupai omongan-omongan yang berisi bualan.
Gangguan kejiwaan yang sering kali dikaitkan dengan suatu kondisi manipulatif juga biasanya sangat sering dikaitkan dengan mudahnya pasien berbohong. Pasien dengan gangguan perilaku (conduct disorder) bisa melakukan kebohongan demi menutupi kesalahan-kesalahan yang terjadi. Kondisi ini biasanya terjadi pada masa remaja dan berlanjut ke masa dewasa muda.
Selain itu, gangguan kepribadian anti sosial yang sering disebut sebagai psikopat juga sering melakukan kebohongan dalam kehidupan sehari-harinya. Uang, seks dan kekuasaan adalah motif di balik semua kebohongan yang dilakukan oleh orang dengan kepribadian anti sosial. Kebohongan ini biasanya dilakukan tanpa merasa bersalah dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bagian sakitnya sehingga sepertinya kehidupan orang ini pun dalam kebohongan yang sudah kadang sulit dipisahkan dari kebenaran yang ada.
                                                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar