Anak akan mengalami
suatu periode yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana
saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan
pengaruh dari luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa
keemasan dari masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan
mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan
berpikiri, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan
perkembangan sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8
tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode
selanjutnya. Saat perkembangan anak khususnya saat perkembangan dini, orang tua
harus betul menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya
akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Guna
mendukung hal tersebut berikut adalah beberapa hal yang harus di perhatikan
orang tua mengenai perkembangan anaknya.

Perkembangan kognitif anak terbagi ke dalam beberapa tahap:
- Tahap Sensorimotor, pada tahap ini kemampuan anak hanya pada gerakan refleks, mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan awal, mereproduksi berbagai kejadian yang menurutnya menarik, mulai menggunakan berbagai hal atau peralatan guna mencapai tujuannya, melakukan berbagai eksperimen dan anak sudah mulai menemukan berbagai cara baru. Tahap sensorimotor terjadi saat usia 0-2 tahun.
- Tahapan Pra-operasional, pada tahap ini anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas, Kemampuan bahasa anak mulai berkembang, meskipun pola pikirnya masih bersifat statsi dan masih belum mampu untuk berpikir secara abstrak, persepsi mengenai waktu dan mengenai tempat masih tetap terbatas. Tahap pra-operasional berkembang saat usia anak 2-7 tahun.
- Tahap konkret operasional, pada tahap ini anak sudah bisa menjalankan operasional dan berpikirnya mulai berpikir secara rasional. Dalam tahap ini tugas-tugas seperti menyusun, melipat, melakukan pemisahan, penggabungan, menderetkan dan membagi sudah dapat dilakukan oleh anak. Tahap konkret operasional berlangsung pada usia 7-11 tahun.
- Tahap Formal Operasional, dalam tahap ini anak sudah mulai beranjak sebagai seorang remaja. Dalam tahap ini, anak sudah mulai berpikir secara hipotetik, yaitu penggunaan hipotesis yang relevan sudah dilakukan anak guna memecahkan berbagai masalah. Sudah mampu menampung atau berpikir terhadap hal-hal yang menggunakan prinsip-prinsip abstrak, sehingga anak sudah bida menerima pelajaran-pelajaran yang bersifat abstrak seperti matematika, agama dan lain-lain.
Perkembangan
Fisik Anak
Mengenai perkembangan
fisik anak bisa dilihat dari perkembangan motroik anak. Perkembangan motorik
anak ini terbagi lagi ke dalam perkembangan motorik halus dan perkembangan
motorik kasar.
Perkembangan
Bahasa
Perkembangan bahasa
anak usia dini terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
·
Periode prelingual,
usia anak 0-1 thn, ciri utama adalah anak mengoceh untuk dapat berkomunikasi
dengan orang tua, anak masih bersifat pasif saat menerima stimulus dari luar
tapi anak akan menerima respon yang berbeda. Contoh: bayi akan senyum kepada
orang yang dikenalnya dan menangis kepada orang yang tidak dikenal dan
ditakutinya.
·
Periode Lingual,
usia antara 1-2,5 tahun, dalam taha ini anak sudah mampu membuat sebuah
kalimat, satu atau dua kata dalam percakapannya dengan orang lain.
·
Periode Diferensiasi,
usia anak 2,5 - 5 thn, anak sudah memiliki kemampuan bahasa sesuai dengan
peraturan tata bahasa yang baik dan benar. Permbendaharaan katanya sudang
berkembang secara baik dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.
Perkembangan
Sosio-emosional
Perkembangan sosio
emosisonal anak terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
· Tahap percaya versus curiga (trust vs
mistrust), usia anak 0-2 tahun, dalam tahap ini
anak akan tumbuh rasa percaya dirinya jika mendapatkan pengalaman yang
menyenangkan, namun akan tumbuh rasa curiga jika anak mendapat pengalaman yang
tidak menyenangkan.
·
Tahap Mandiri versus Ragu ( Autonomy vs
Shame), usia anak 2-3 tahun, perasaan mandiri
mulai muncul tatkala anak sudah mulai menguasai seluruh anggota tobuhnya, sifat
ragu dan malu akan muncul pada tahap ini ketika lingkungan tidak memberinya
sebuah kepercayaan.
·
Tahap berinisiatif versus bersalah
(initiative versus guilt), usia anak 4-5 tahun. Pada masa ini
anak sudah mulai lepas dari orang tuanya, anak sudah mampu bergerak bebas dan
berhubungan dengan lingkungan. Kondisi ini dapat menimbulkan inisiatif pada
diri anak, namun jika anak masih belum bisa terlepas dari ikatan orang tuanya
dan belum bisa berinteraksi dengan lingkungan, rasa bersalah akan muncul pada
diri anak.
Menurut beberapa para
ahli, ada beberapa fase atau periodisasi
psikologi perkembangan individu, yaitu:
1.
Periodisasi yang
berdasar biologis.
Periodisasi
atau pembagian masa-masa perkembangan ini didasarkan kepada keadaan atau proses
biologis tertentu. Pembagian Aristoteles didasarkan atas gejala
pertumbuhan jasmani yaitu antara fase satu dan fase kedua dibatasi oleh
pergantian gigi, antara fase kedua dengan fase ketiga ditandai dengan mulai
bekerjanya kelenjar kelengkapan kelamin. Fase-fase tersebut yaitu a) Fase anak
kecil : 0 – t th, b) Fase anak sekolah: 7 – 14 th yaitu masa mulai bekerjanya
kelenjar kelengkapan kelamin, dan c) Fase remaja : 14 – 21 th
2.
Periodisasi yang
berdasar psikologi.
Tokoh
utama yang mendasarkan periodisasi ini kepada keadaan psikologi adalah Oswald
Kroch. Beliau menjadikan masa-masa kegoncangan sebagai dasar pembagian
masa-masa psikologi perkembangan, karena beliau yakin bahwa masa kegoncangan
inilah yang merupakan keadaan psikologi yang khas dan dialami oleh setiap anak
dalam masa perkembangannya. Fase-fase tersebut yaitu: a) Dari lahir sampai masa
“trotz”( kegoncangan) pertama: kanak-kanak awal. b) Trotz pertama sampai trotz
kedua : masa keserasia bersekolah. c) Trotz kedua sampai akhir remaja: masa
kematangan
3.
Periodisasi yang
berdasar didaktis
Pembagian
masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh Harvey A.
Tilker, PhD dalam “Developmental Psycology to day”(1975) dan Elizabeth B.
Hurlock dalam “Developmental Psycology”(1980) tampak sudah lengkap mencakup
sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakikat perkembangan manusia yang
berlangsung sejak konsepsi sampai mati dengan pembagian periodisasinya.
Berikut
periodisasi berdasarkan didaktis menurut Elizabeth B. Hurlock :
a)
Masa sebelum lahir (pranatal): 9 bulan
b)
Masa bayi baru lahir (new born): 0-2 minggu
c) Masa
bayi (babyhood): 2 minggu- 2 th
d)
Masa kanak-kanak awal (early childhood):2-6 th
e) Masa
kanak-kanak akhir (later chilhood): 6-12 th
f)
Masa puber (puberty) 11/12 – 15/16 th
g) Masa
remaja ( adolesence) : 15/16 – 21 th
h) Masa
dewasa awal (early adulthood) : 21-40 th
i)
Masa dewasa madya(middle adulthood): 40-60 th
j) Masa
usia lanjut (later adulthood) : 60-…..
Mengenal
Perkembangan Bayi
Perkembangan bayi mencakup kemampuan perseptual, motorik (gerakan
tubuh), kognitif, dan keterampilan sosial. Pertumbuhan dan perkembangan setiap
bayi tentu tidak selalu seragam. Maka tidak perlu kaku dalam menilai kemajuan
perkembangan bayi. Standar yang dibakukan sebagai tahapan perkembangan
merupakan bahasa statistik. Mayoritas bayi normal sudah mencapai tahapan
perkembangannya sejalan dengan umurnya.
Jangan cepat cemas dulu apabila perkembangan bayi kita tidak
persis sesuai standar baku sepanjang masih dalam batas-batas normal. Apabila
terjadi kelambanan perkembangan yang ekstrem, perlu mendapat perhatian setiap
orangtua.
Bayi anda berkembang
sepanjang waktu, dari hari ke hari, bulan demi bulan, semuanya berkembang
dengan menabjubkan. Tidak ada patokan khusus untuk mengukur tumbuh kembangnya,
akan tetapi dapat kita lihat petunjuk secara umum dari beberapa bayi, walaupun
masing-masing bayi perkembangannya berbeda satu dengan yang lain[1].
Berikut perkembangannya:
1.
Usia lahir hingga 1 bulan (0-1
Bulan)
·
Mata belum bisa fokus, tapi sudah
belajar mengenali wajah dalam jarak dekat
·
Dapat menirukan anda dalam hal
menjulurkan lidah atau membuka mulut
·
Secara insting akan menuju kearah susu
anda dan membuka mulutnya
·
Memejamkan mata atau berkedip saat ada
cahaya yang kuat dan akan menutup matanya bila terlalu banyak rangsangan cahaya
yang masuk
·
Dalam periode 24 jam tidur 16 hingga 17
jam
·
Biasanya membutuhkan perawatan setiap 2
jam, tidak terlepas dari susu ibu atau susu formula dalam jangka waktu 3 atau 4
jam
·
Menangis berarti membutuhkan sesuatu
(makanan, ganti popok, ketenangan atau belaian)
·
Penglihatan cukup jelas dalam jarak 8
hingga 12 inchi, akan memandang wajah ibu saat disusui
·
Gerakan, dalam hal menggenggam dan
mengayun masih bersifat refleks
·
Masih tidur lebih dari setengah hari,
tapi pelan-pelan mulai lebih banyak tidur malam hari daripada di siang hari
·
Senyuman pertama mungkin akan muncul di
usia ini
·
Menangis lebih banyak terjadi saat usia
6 minggu (hampir 3 jam sehari lebih sering lagi kalau I anak kolik)
3.
Usia 2 bulan
·
Mulai mengenali wajah-wajah yang
berbeda
·
Dapat memegang benda dalam beberapa
detik sebelum benda ittu terlepas
·
Sudah mampu menoleh bila ada suara yang
dating dari arah kiri atau kanan
·
Masih perlu tiga atau empat kali tidur
siang, dan terbangun pada malam hari untuk minum susu atau makan
·
Dalam hal minum susu mungkin bervariasi
dari 6 hingga 10 kali sehari
·
Kadang menghentikan tangisnya sambil
berharap anda menghampirinya dan memberi perhatian
4.
Usia 3 bulan
·
Gampang dan spontan dalam tersenyum
·
Dapat memegang benda dan mengayunkannya
·
Menjadi sangat asyik dengan tangan dan
jari-jarinya
·
Akan mengikuti gerak dan arah gerakan
benda
·
Menangis sebagai cara untuk
mengkomunikasikan sekaligus menandakan kebosanan atau sedang butuh perhatian
5.
Usia 4 bulan
·
Dapat melihat ke penjuru ruangan
·
Dapat berguling dengan tanpa bantuan
·
Memukul-mukul air dan menendang-nendang
untuk kesenangan saat sedang dimandikan
·
Dapat mulai menahan kepala secara tegak
·
Mulai bereksperimen dengan mengoceh
·
Bisa mendengarkan musik
·
Mulai tumbuh gigi
6. Usia
5 bulan
·
Mengenali anggota-anggota keluarga
dengan baik
·
Akan mencondongkan dada untuk mengambil
benda yang jatuh
·
Mulai memegang benda,
menggoyang-goyangkannya dan sering mengeksplorasinya dengan mulut
·
Dapat melihat keseluruh ruangan
·
Dapat menahan kepala secara tegak
7.
Usia 6 bulan
·
Mungkin sudah mampu duduk bila dibantu
·
Dapat memutar tubuh dan menengokkan
kepala
·
Bila belum mulai makan makanan padat,
mulai saat ini bisa dimulai
·
Emosi secara keseluruhan akan muncul
saat ini, mulai dari senang, sayang, dan peka terhadap humor hingga tidak
sabar, takut dan tidak percaya.
·
Kemungkinan bisa menambahkan beberapa
konsonan pada saat mengoceh
·
Bayi mungkin bisa tidur sepanjang malam
dimana membuatnya bisa tidak makan atau minum selama 6 hingga 7 jam
·
Ketika marah sudah bisa menenangkan
diri
8.
Usia 7 bulan
·
Memulai beberapa bentuk awal merangkak
·
Memulai dapat mengangkat tubuh untuk
menuju kearah posisi berdiri
·
Gigi sudah mulai terbentuk dan tumbuh
disebagian formasi
·
Dapat mengenali nama sendiri dalam
rangkaian kata-kata yang kita ucapkan
·
Senang sekali pada situasi social dan
kegirangan dengan ditandai melonjak-lonjak saat tahu saatnya untuk bermain
9.
Usia 8 bulan
·
Merangkak maju atau mundur, kadang
sambil berpegangan pada suatu benda
·
Kemungkinan sudah dapat berdiri sambil
bertopang pada sesuatu
·
Sedikit motorik skill juga sudah
berkembang seperti mengambil benda kecil dengan cara menggenggam menggunakan
ibu jari dan jari lainnya
·
Dapat mengingatkan kejadian yang baru
lewat
·
Mengerti bahwa mainan tidak hilang
ketika disembunyikan, paham bahwa benda itu ada disuatu tempat tapi tidak harus
tampak
·
Menangis karena tidak sabar
10.
Usia 9 bulan
·
Belajar bertepuk tangan
·
Belajar merembet atau mendaki sesuatu
·
Memahami beberapa kata-kata, walaupun
tidak bisa mengucapkannya
·
Memahami ketinggian bahkan kadang takut
dengan hal itu
·
Ingin bermain didekat anda tetapi dalam
prosesnya dia ingin mengeksplorasi sendiri mainannya tersebut secara
independent
·
Tidur siang mungkin turun hingga hanya
dua kali sehari
11.
Usia 10 bulan
·
Mampu berjalan bila anda memegang kedua
tangannya
·
Duduk dari posisi berdiri
·
Kadang bergoyang atau melonjak-lonjak
ketika mendengarkan musik
·
Menjadikan semua peralatan rumah tangga
sebagai mainan
·
Takut terhadap tempat-tempat yang aneh
·
Mulai bagus ketika mengantisipasi
kejadian, ketika lemari es dibuka ia mengharap adanya makanan, ketika anda
mengambil dompet bayi anda mungkin berharap anda akan mengajaknya keluar
12.
Usia 11 bulan
·
Merambat sepanjang furniture rumah
tanpa bimbingan anda
·
Bisa berjinjit mengangkat tubuh diatas
jari-jari kaki
·
Meloncat dan membungkuk
·
Memahami bahwa benda yang kecil dapat
masuk ketempat yang lebih besar
·
Bisa membuat suara-suara yang lebih
berarti, termasuk menirukan irama
·
Memahami kata jangan tetapi belum dapat
meletakkannya dalam konteks yang berbeda
13.
Usia 12 bulan
·
Segera akan berdiri dan berjalan sesaat
sebelum ulang tahunnya yang pertama
·
Akan menirukan tindakan-tindakan
seperti berbicara di telepon, menyapu lantai, mendorong trolly belanja, memberi
makanan bayi dan sebagainya
·
Memahami lebih banyak kata-kata yang
kita ucapkan
·
Kemungkinan menunjukkan secara
sementara prefensi kearah salah satu orang tertentu
·
Kadang menolak waktu untuk tidur baik
sing ataupun malam
·
Menunjukkan kasih sayang dalam bentuk
tersenyum, memeluk, mencium atau tepukan dipunggung.[2]
Perkembangan Anak-anak
Perkembangan kejiwaan
pada masa anak-anak, terkadang disebut dengan masa anak kecil atau juga dengan
masa menjelang sekolah, sebab masa-masa ini saat-saat anak senang mempersiapkan
diri untuk bersekolah. Demikian pula masa ini ada yang menyebut dengan masa
estetis, dikarenakan anak mulai mengenal dunia sekitarnya terasa indah. Pada
pembahasan ini akan dijelaskan antara lain:
1.
Perkembangan
Fisik
Pertumbuhan
fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang. Peningkatan
berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan
berat badan anak terjadi terutama karena bertambahnya
ukuran sistem rangka, otot dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya.
2.
Perkembangan
Motorik
Perkembangan
motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan
dengan masa bayi. Anak – anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai
meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus
ketrampilan – ketrampilan motorik, anak – anak terus melakukan berbagai
aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan.
Disamping itu, anak – anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan
olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang, dll.
Beberapa
perkembangan motorik (kasar maupun halus) selama periode ini,
antara lain:
a)
Anak Usia 5 Tahun
·
Mampu melompat dan menari
·
Menggambarkan orang yang terdiri dari
kepala, lengan dan badan
·
Dapat menghitung jari – jarinya
·
Mendengar dan mengulang hal – hal
penting dan mampu bercerita
·
Mempunyai minat terhadap kata-kata baru
beserta artinya
·
Memprotes bila dilarang apa yang
menjadi keinginannya
·
Mampu membedakan besar dan kecil
b)
Anak Usia 6 Tahun
·
Ketangkasan meningkat
·
Melompat tali
·
Bermain sepeda
·
Mengetahui kanan dan kiri
·
Mungkin bertindak menentang dan tidak
sopan
·
Mampu menguraikan objek-objek dengan
gambar
c)
Anak Usia 7 Tahun
·
Mulai membaca dengan lancar
·
Cemas terhadap kegagalan
·
Peningkatan minat pada bidang spiritual
·
Kadang Malu atau sedih
d)
Anak Usia 8 – 9 Tahun
·
Kecepatan dan kehalusan aktivitas
motorik meningkat
·
Mampu menggunakan
peralatan rumah tangga
·
Ketrampilan lebih individual
·
Ingin terlibat dalam sesuatu
·
Menyukai kelompok dan mode
·
Mencari teman secara aktif.
e)
Anak Usia 10 – 12 Tahun
·
Perubahan sifat berkaitan dengan
berubahnya postur tubuh yang berhubungan dengan pubertas mulai tampak
·
Mampu melakukan
aktivitas rumah tangga, seperti mencuci, menjemur pakaian sendiri,
dll.
·
Adanya keinginan anak unuk menyenangkan
dan membantu orang lain
·
Mulai tertarik dengan lawan jenis.
3.
Perkembangan
Kognitif
Dalam
keadaan normal, pada periode ini pikiran anak berkembang
secara berangsur – angsur. Jika pada periode sebelumnya, daya pikir
anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada periode ini
daya pikir anak sudah berkembang ke arah yang lebih konkrit, rasional dan
objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar
berada pada stadium belajar.
Menurut teori
Piaget, pemikiran anak – anak usia sekolah dasar disebut
pemikiran Operasional Konkrit (Concret Operational Thought),
artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek peristiwa
nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi
terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari
pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa
yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah
mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi–operasi, yaitu :
a.
Negasi (Negation), yaitu pada
masa konkrit operasional, anak memahami hubungan-hubungan antara benda atau
keadaan yang satu dengan benda atau keadaan yang lain.
b.
Hubungan Timbal Balik (Resiprok),
yaitu anak telah mengetahui hubungan sebab-akibat dalam suatu keadaan.
c.
Identitas, yaitu anak sudah mampu
mengenal satu persatu deretan benda-benda yang ada.
Operasi
yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan
tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, pada tahap ini anak
telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkanya dapat berfikir untuk
melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata.
Perkembangan
Memori
Selama periode ini,
memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi, memori
jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya
keterbatasan – keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan tersebut, anak
berusaha menggunakan strategi memori (memory strategy), yaitu merupakan
perilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori. Matlin (1994)
menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu :
a)
Rehearsal (Pengulangan)
: Suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali
informasi yang telah disampaikan.
b)
Organization (Organisasi)
: Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan
memori. Seperti, anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut
susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.
c)
Imagery (Perbandingan)
: Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik pembayangan dari
seseorang.
d)
Retrieval (Pemunculan
Kembali) : Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat
penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan
kembali sebuah meori, mereka akan menggunakannya secara spontan.
Selain
strategi-strategi memori diatas, terdapat hal lain yang mempengaruhi memori
anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan
dan motivasi), serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya.
Perkembangan Pemikiran Kritis
Perkembangan
Pemikiran Kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara
mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak
mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber
serta mampu befikir secara reflektif dan evaluatif.
Perkembangan Kreativitas
Dalam
tahap ini, anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan
sekolah.
Perkembangan Bahasa
Selama
masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa
kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat
dalam cara berfikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap
anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat
menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat.
4.
Perkembangan
Psikosial
Pada
tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan
yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin
kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya
dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses
pendidikan ini, anak belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan
orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan –
peraturan yang berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh
oleh guru dan teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua,
melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia
telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi
dirinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi
terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya.
a.
Perkembangan
Pemahaman Diri
Pada
tahap ini, pemahaman diri atau konsep diri anak
mengalami perubahan yang sangat pesat. Ia lebih memahami dirinya
melalui karakteristik internal daripada melalui karakteristik
eksternal.
b. Perkembangan
Hubungan dengan Keluarga
Dalam
hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak
mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan
dengan periode sebelumnya, karena rata-rata anak
menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah
memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan
kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial.
c. Perkembangan
Hubungan dengan Teman Sebaya
Berinteraksi
dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya
mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya
dan terkadang terdapat duatu grup/kelompok. Anak idak lagi puas bermain
sendirian dirumah. Hal ini karena anak mempunyai
kenginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok.[3]
Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Secara umum terdapat
dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu :
1.
Faktor Genetik
2.
Faktor Lingkungan
- Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal)
- Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal)
3.
Faktor Lingkungan Pranatal
- Gizi ibu pada waktu hamil
- Mekanis
- Toksin/zat kimia
- Endokrin
- Radiasi
- Infeksi
- Stres
- Imunitas
Faktor
genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses
tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu
potensi anak yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetik yang terkandung di
dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas
pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat
sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya
pertumbuhan tulang.
Lingkungan
merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut
hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan yang
cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang
baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan ”bio-fisiko-psiko-sosial”
yang memepengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir
hayatnya.
Faktor lingkungan ini
secara garis besar dibagi menjadi :
Faktor
lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari
konsepsi sampai lahir, antara lain :
Gizi
ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil,
lebih sering menghasilkan bayi BBLR/lahir mati, menyebabkan cacat bawaan,
hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir,bayi baru lahir mudah terkena
infeksi, abortus dan sebagainya.
Trauma
dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin dalam uterus dapat kelainan
bawaan, talipes, dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi fasialis, atau
kranio tabes.
Zat-zat
kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi antara lain obat anti
kanker, rokok, alkohol beserta logam berat lainnya.
Hormon-hormon
yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatotropin, tiroid,
insulin, hormon plasenta, peptida-peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin.
Apabila salah satu dari hormon tersebut mengalami defisiensi maka dapat
menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat
sehingga terjadi retardasi mental, cacat bawaan dan lain-lain.
Radiasi
pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin,
kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi
pada orang laki-laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya.
Setiap
hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi intrauterin yang
sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang
juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio,
influenza dan lain-lain.
Stres
yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin,
antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.
Rhesus
atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
DAFTAR
PUSTAKA
Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini
http://bidanku.com/psikologi-perkembangan-anak-usia-dini#ixzz2m1VA8rd3
Ahmadi, Abu. 2005. Psikologi
Perkembangan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya
Hurlock,
Elizabeth B. 1998. Psikologi Perkembangan,
terj. Istiwidiyanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga
Papalia,
Diane E, Etc. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan, terjemahan A.
K. Anwar). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup
Markum. A.H.
dkk. Ilmu Kesehatan Anak. FKUI. Jakarta. 1991
[3]
Hurlock, Elizabeth B. 1998. Psikologi Perkembangan,
terj. Istiwidiyanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar