Manejemen lactase adalah suatu tata laksana menyeluruh yang menyangkut lactase
dan pengguanaan asi, yang menunjuk suatu keberhasilan pemeliharaan kesehatan
ibu dan bayinya. Manajeman ini meliputi suatu persiapan dan pendidikan
penuyuluhan ibu, pelaksanaan menyusui dan merawat gabung dan usaha lanjutan
perlidungan ibu yang menyusui. Secara singkat manajeman lactase dijabarkan
berdasarkan faktor-faktor dalam perioda kehamilan sebagai berikut :
a)
Periode prenatal
Pendidikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentangf manfaat menyusui dan
pelaksanaan rawat gabung.
Adanya dukungan keluarga.
Adanya dukungan dan kemampuan petugas kesehatan.
Pemeriksaan payudara.
Persiapan payudara dan putting susu.
Gizi yang bermutu.
Cara hidup sehat.
b)
Periode nifas dini
Ibu dan bayi harus siap menyusui.
Segera menyusui setelah bayi lahir.
Teknik menyusui yang benar.
Menyusui harus sering, berdasarkan kebutuhan, sebaiknya tak usah di jadwal.
Tidak memberi susu formula.
Tidak memakai putting buatan atau pelindung.
Pergunakan ke 2 payudara, mulai menyusui dengan putting yang berganti-ganti.
Perawatan payudara.
Memelihara fisik.
Makanan yang bermutu.
Istirahaty cukup
c)
Periode nifas lanjut
Sangat ideal bila dalam 7 hari setelah pulang dari rumah sakit, si ibu
dihubungi atau di
kunjungi untuk melihatv perkembangan atau situasi rumahnya, persoalan
rumahnya.
Adanya sarana pelayanan atau konsultasi bilas secara mendadak si ibu mendapat
persoalan
dengan lactase dan menyusui.
Adanya keluarga atau teman yang membantu di rumah.
MASALAH
YANG SERING TIMBUL DALAM MASA LAKTASI
1)
Putting rata : untuk mengatasi
dapat dilakukan denagan jalan menarik putting sejak hamil.
2)
Putting lecet : dapat disebabkan oleh teknik
menyusui yang salah atau perawatan yang tidak betul pada payudara.
3)
Payudara bengkak : disebabkan karena pengeluaran asi
tidak lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat
diisapi.
4)
Saluran tersumbat :terjadi static pada saluran asi
secara local, sehingga timbul benjolan local.
5)
Infeksi payudara :suatu bproses infeksi pada payudara
yang dapat menimbulkan reaksi sitemik ibu misalkan demam.
6)
Abses payudara : dapat teerjadi skunder pada mastitis
atau luka pada payudara yang terinfeksi.
7)
Reluctant nurser : bayi yang tudak suka menyusui.
Air
susu ibu dan hormon prolaktin
Setiap
kali bayi menghisap payudara akan merangsang ujung saraf sensoris disekitar
payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian depan untuk menghasilkan
prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran darah kemudian ke payudara
menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik ASI) menghasilkan ASI.
Prolaktin
akan berada di peredaran darah selama 30 menit setelah dihisap, sehingga
prolaktin dapat merangsang payudara menghasilkan ASI untuk minum berikutnya.
Sedangkan untuk minum yg sekarang, bayi mengambil ASI yang sudah ada.
Makin
banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI (sinus laktiferus), makin banyak
produksi ASI. Dengan kata lain, makin sering bayi menyusui makin banyak ASI
diproduksi. Sebaliknya, makin jarang bayi menghisap, makin sedikit payudara
menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti
menghasilkan ASI.
Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga akan menekan ovulasi (fungsi indung telur untuk menghasilkan sel telur), sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid. Oleh karena itu, menyusui pada malam hari penting untuk tujuan menunda kehamilan.
Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga akan menekan ovulasi (fungsi indung telur untuk menghasilkan sel telur), sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid. Oleh karena itu, menyusui pada malam hari penting untuk tujuan menunda kehamilan.
Air
susu ibu dan refleks oksitosin (Love reflex, Let Down Reflex)
Hormon
oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis. Hormon tersebut
dihasilkan bila ujung saraf disekitar payudara dirangsang oleh isapan.
Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan
merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan memeras
ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat
dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya.
Oksitosin
dibentuk lebih cepat dibanding prolaktin. Keadaan ini menyebabkan ASI di
payudara akan mengalir untuk dihisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu
berkeinginan menyusui (sebelum bayi menghisap). Jika refleks oksitosin tidak
bekerja dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI.
Payudara seolah-olah telah berhenti memproduksi ASI, padahal payudara tetap
menghasilkan ASI namun tidak mengalir keluar.
Efek
penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah
melahirkan. Hal ini membantu mengurangi perdarahan, walaupun kadang
mengakibatkan nyeri.
Keadaan
yang dapat meningkatkan hormon oksitosin
Beberapa
keadaan yang dianggap dapat mempengaruhi (meningkatkan) produksi hormon
oksitosin :
- Perasaan dan curahan kasih sayang terhadap bayinya.
- Celotehan atau tangisan bayi
- Dukungan ayah dalam pengasuhan bayi, seperti menggendong bayi ke ibu saat akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi, bermain, mendendangkan bayi dan membantu pekerjaan rumah tangga
- Pijat bayi
Beberapa
keadaan yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin
- Rasa cemas, sedih, marah, kesal, atau bingung
- Rasa cemas terhadap perubahan bentuk pada payudara dan bentuk tubuhnya, meniggalkan bayi karena harus bekerja dan ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi.
- Rasa sakit terutama saat menyusui
Keberhasilan
menyusui
Untuk
memaksimalkan manfaat menyusui, bayi sebaiknya disusui selama 6 bulan pertama.
Beberapa langkah yang dapat menuntun ibu agar sukses menyusui secara eksklusif
selama 6 bulan pertama, antara lain :
- Biarkan bayi menyusu sesegera mungkin setelah bayi lahir terutama dalam 1 jam pertama (inisiasi dini), karena bayi baru lahir sangat aktif dan tanggap dalam 1 jam pertama dan setelah itu akan mengantuk dan tertidur. Bayi mempunyai refleks menghisap (sucking reflex) sangat kuat pada saat itu. Jika ibu melahirkan dengan operasi kaisar juga dapat melakukan hal ini (bila kondisi ibu sadar, atau bila ibu telah bebas dari efek anestesi umum). Proses menyusui dimulai segera setelah lahir dengan membiarkan bayi diletakkan di dada ibu sehingga terjadi kontak kulit kulit. Bayi akan mulai merangkak untuk mencari puting ibu dan menghisapnya. Kontak kulit dengan kulit ini akan merangsang aliran ASI, membantu ikatan batin (bonding) ibu dan bayi serta perkembangan bayi.
- Yakinkan bahwa hanya ASI makanan pertama dan satu-satunya bagi bayi anda. Tidak ada makanan atau cairan lain (seperti gula, air, susu formula) yang diberikan, karena akan menghambat keberhasilan proses menyusui. Makanan atau cairan lain akan mengganggu produksi dan suplai ASI, menciptakan “bingung puting”, serta meningkatkan risiko infeksi
- Susui bayi sesuai kebutuhannya sampai puas. Bila bayi puas, maka ia akan melepaskan puting dengan sendirinya.
Keterampilan
menyusui
Agar
proses menyusui dapat berjalan lancar, maka seorang ibu harus mempunyai
keterampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari payudara ibu ke bayi secara
efektif. Keterampilan menyusui yang baik meliputi posisi menyusui dan
perlekatan bayi pada payudara yang tepat.
Posisi
menyusui harus senyaman mungkin, dapat dengan posisi berbaring atau duduk.
Posisi yang kurang tepat akan menghasilkan perlekatan yang tidak baik. Posisi
dasar menyusui terdiri dari posisi badan ibu, posisi badan bayi, serta posisi
mulut bayi dan payudara ibu (perlekatan/ attachment). Posisi badan ibu saat
menyusui dapat posisi duduk, posisi tidur terlentang, atau posisi tidur miring.
Saat
menyusui, bayi harus disanggah sehingga kepala lurus menghadap payudara dengan
hidung menghadap ke puting dan badan bayi menempel dengan badan ibu (sanggahan
bukan hanya pada bahu dan leher). Sentuh bibir bawah bayi dengan puting, tunggu
sampai mulut bayi terbuka lebar dan secepatnya dekatkan bayi ke payudara dengan
cara menekan punggung dan bahu bayi (bukan kepala bayi). Arahkan puting susu ke
atas, lalu masukkan ke mulut bayi dengan cara menyusuri langit-langitnya.
Masukkan payudara ibu sebanyak mungkin ke mulut bayi sehingga hanya sedikit
bagian areola bawah yang terlihat dibanding aerola bagian atas. Bibir bayi akan
memutar keluar, dagu bayi menempel pada payudara dan puting susu terlipat di
bawah bibir atas bayi.
Posisi tubuh yang baik dapat dilihat sebagai berikut:
Posisi tubuh yang baik dapat dilihat sebagai berikut:
- Posisi muka bayi menghadap ke payudara (chin to breast)
- Perut/dada bayi menempel pada perut/dada ibu (chest to chest)
- Seluruh badan bayi menghadap ke badan ibu hingga telinga bayi membentuk garis lurus dengan lengan bayi dan leher bayi
- Seluruh punggung bayi tersanggah dengan baik
- Ada kontak mata antara ibu dengan bayi
- Pegang belakang bahu jangan kepala bayi
- Kepala terletak dilengan bukan didaerah siku
Posisi
menyusui yang tidak benar dapat dilihat
sebagai berikut :
- Leher bayi terputar dan cenderung kedepan
- Badan bayi menjauh badan ibu
- Badan bayi tidak menghadap ke badan ibu
- Hanya leher dan kepala tersanggah
- Tidak ada kontak mata antara ibu dan bayi
- C-hold tetap dipertahankan
Bagaimana
sebaiknya bayi menghisap pada payudara ?
Agar
bayi dapat menghisap secara efektif, maka bayi harus mengambil cukup banyak
payudara kedalam mulutnya agar lidahnya dapat memeras sinus laktiferus. Bayi
harus menarik keluar atau memeras jaringan payudara sehingga membentuk ”puting
buatan/ DOT” yang bentuknya lebih panjang dari puting susu. Puting susu sendiri
hanya membentuk sepertiga dari ”puting buatan/ DOT”. Hal ini dapat kita lihat
saat bayi selesai menyusui. Dengan cara inilah bayi mengeluarkan ASI dari
payudara. Hisapan efektif tercapai bila bayi menghisap dengan hisapan dalam dan
lambat. Bayi terlihat menghentikan sejenak hisapannya dan kita dapat mendengar
suara ASI yang ditelan.
Tanda
perlekatan bayi dan ibu yang baik
- Dagu menyentuh payudara
- Mulut terbuka lebar
- Bibir bawah terputar keluar
- Lebih banyak areola bagian atas yang terlihat dibanding bagian bawah
- Tidak menimbulkan rasa sakit pada puting susu
Jika
bayi tidak melekat dengan baik maka akan menimbulkan luka dan nyeri pada puting
susu dan payudara akan membengkak karena ASI tidak dapat dikeluarkan secara
efektif. Bayi merasa tidak puas dan ia ingin menyusu sering dan lama.
Bayi akan mendapat ASI sangat sedikit dan berat badan bayi tidak naik dan
lambat laun ASI akan mengering.
Tanda
perlekatan ibu dan bayi yang tidak baik :
- Dagu tidak menempel pada payudara
- Mulut bayi tidak terbuka lebar- Bibir mencucu/ monyong
- Bibir bawah terlipat kedalam sehingga menghalangi pengeluaran ASI oleh lidah
- Lebih banyak areola bagian bawah yang terlihat
- Terasa sakit pada puting
Perlekatan
yang benar adalah kunci keberhasilan menyusui
- Bayi datang dari arah bawah payudara
- Hidung bayi berhadapan dengan puting susu
- Dagu bayi merupakan bagian pertama yang melekat pada payudara (titik pertemuan)
- Puting diarahkan ke atas ke langit-langit bayi
- Telusuri langit-langit bayi dengan putting sampai didaerah yang tidak ada tulangnya, diantara uvula (tekak) dengan pangkal lidah yang lembut
- Putting susu hanya 1/3 atau ¼ dari bagian “dot panjang” yang terbentuk dari jaringan payudara
Cara
bayi mengeluarkan ASI
- Bayi tidak mengeluarkan ASI dari payudara seperti mengisap minuman melalui sedotan
- Bayi mengisap untuk membentuk ’dot’ dari jaringan payudara
- Bayi mengeluarkan ASI dengan gerakan peristaltik lidah menekan gudang ASI ke langit-langit sehingga ASI terperah keluar gudang masuk kedalam mulut
- Gerakan gelombang lidah bayi dari depan ke belakang dan menekan ’dot buatan’ ke atas langit-langit
- Perahan efektif akan terjadi bila bayi melekat dengan benar sehingga bayi mudah memeras ASI
Berapa
lama sebaiknya bayi menyusu ?
Lamanya
menyusu berbeda-beda tiap periode menyusu. Rata-rata bayi menyusu selama 5-15
menit, walaupun terkadang lebih. Bayi dapat mengukur sendiri kebutuhannya. Bila
proses menyusu berlangsung sangat lama (lebih dari 30 menit) atau sangat cepat
(kurang dari 5 menit) mungkin ada masalah. Pada hari-hari pertama atau pada
bayi berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram), proses menyusu terkadang
sangat lama dan hal ini merupakan hal yang wajar. Sebaiknya bayi menyusu pada
satu payudara sampai selesai baru kemudian bila bayi masih menginginkan dapat
diberikan pada payudara yang satu lagi sehingga kedua payudara mendapat
stimulasi yang sama untuk menghasilkan ASI.
Berapa sering bayi menyusu dalam sehari ?
Berapa sering bayi menyusu dalam sehari ?
Susui
bayi sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan bayi, sedikitnya lebih dari 8
kali dalam 24 jam. Awalnya bayi menyusu sangat sering, namun pada usia 2 minggu
frekuensi menyusu akan berkurang. Bayi sebaiknya disusui sesering dan selama
bayi menginginkannya bahkan pada malam hari. Menyusui pada malam hari membantu
mempertahankan suplai ASI karena hormon prolaktin dikeluarkan terutama pada
malam hari. Bayi yang puas menyusu akan melepaskan payudara ibu dengan
sendirinya, ibu tidak perlu menyetopnya.
Bagaimana menilai kecukupan ASI?
Bagaimana menilai kecukupan ASI?
- Asi akan cukup bila posisi dan perlekatan benar
- Bila buang air kecil lebih dari 6 kali sehari dengan warna urine yang tidak pekat dan bau tidak menyengat
- Berat badan naik lebih dari 500 gram dalam sebulan dan telah melebihi berat lahir pada usia 2 minggu
- Bayi akan relaks dan puas setelah menyusu dan melepas sendiri dari payudara ibu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar