Infeksi nifas masih
berperan sebagai penyebab kematian ibu terutama di negara berkembang seperti
Indonesia karena pelayanan kebidanan yang masih jauh dari sempurna. Daya tahan
tubuh yang tidak baik, perawatan nifas yang kurang baik, kurang gizi atau mal
nutrisi, anemia, hygiene yang kurang baik serta kelelahan merupakan faktor
predisposisi terjadinya infeksi nifas. Pemantauan yang ketat dan asuhan pada
ibu dan bayi saat masa nifas diharapkan dapat mencegah kejadian tersebut
(Syaifuddin,2006).
Ibu nifas sangat membutuhkan adanya dukungan dari orang di sekitarnya. Orang yang memotivasi, membesarkan hati dan orang yang selalu bersamanya serta membantu dalam menghadapi perubahan akibat adanya persalinan, untuk semua ini yang penting berpengaruh bagi ibu nifas adalah kehadiran seorang suami (Kitzinger 2005).
Dalam hal ini dukungan yang terpenting adalah peran suami, suami merupakan kepala keluarga sekaligus patner istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Seorang laki-laki yang menjadi ayah baru dituntut dapat membantu istrinya yang baru saja melewati pengalaman persalinan. Karena salah satu peran suami dalam keluarga adalah menjaga kesehatan istri setelah melahirkan yaitu dengan cara memberikan dukungan dan cinta kasih kepada istrinya agar sang istri merasa diperhatikan,mengantarkan untuk kontrol,menganjurkan untuk makan bergizi, istirahat cukup,menjaga personal hygine (BKKBN, 2004).
Dukungan sosial yang diberikan suami pada istrinya adalah dukungan emosional, berupa ungkapan kasih sayang dan perhatian seorang suami kepada istri ataupun bayinya, dukungan penghargaan, berupa ujian atau penilaian kepada ibu nifas, dukungan instrumental, berupa membantu merawat bayi seperti mengendong, menggantikan popok bayi sampai melakukan pekerjaan rumah tangga. Dan dukungan informative, yaitu suami memberikan nasehat, petunjuk atau umpan balik kepada istrinya mengenai masalah nifas (Friedman,1998).
Tidak adanya dukungan suami pada perawatan masa nifas akan menyebabkan ibu merasa tidak diperhatikan dan tertekan misalnya suami lebih perhatian pada bayi daripada istrinya, suami tidak perduli jika istri capek atau setres saat merawat bayinya, suami tidak berpartisipasi menemani istri untuk control, suami protes terhadap perubahan bentuk tubuh istrinya, suami tidak mengingatkan istri untuk makan-makanan yang bergizi dan istirahat cukup. Tekanan yang dirasakan ibu nifas tersebut jika dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan ibu terjadinya stres dalam masa nifas,sehingga bisa memunculkan sikap negative dalam masa nifas dan menimbulkan perilaku yang kurang baik dalam menjalani masa nifas seperti tidak mau makan, tidak mau memeriksakan ketenaga kesehatan,dan akan berdampak buruk terhadap kesehatan dirinya (saleha 2009).
Ibu nifas sangat membutuhkan adanya dukungan dari orang di sekitarnya. Orang yang memotivasi, membesarkan hati dan orang yang selalu bersamanya serta membantu dalam menghadapi perubahan akibat adanya persalinan, untuk semua ini yang penting berpengaruh bagi ibu nifas adalah kehadiran seorang suami (Kitzinger 2005).
Dalam hal ini dukungan yang terpenting adalah peran suami, suami merupakan kepala keluarga sekaligus patner istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Seorang laki-laki yang menjadi ayah baru dituntut dapat membantu istrinya yang baru saja melewati pengalaman persalinan. Karena salah satu peran suami dalam keluarga adalah menjaga kesehatan istri setelah melahirkan yaitu dengan cara memberikan dukungan dan cinta kasih kepada istrinya agar sang istri merasa diperhatikan,mengantarkan untuk kontrol,menganjurkan untuk makan bergizi, istirahat cukup,menjaga personal hygine (BKKBN, 2004).
Dukungan sosial yang diberikan suami pada istrinya adalah dukungan emosional, berupa ungkapan kasih sayang dan perhatian seorang suami kepada istri ataupun bayinya, dukungan penghargaan, berupa ujian atau penilaian kepada ibu nifas, dukungan instrumental, berupa membantu merawat bayi seperti mengendong, menggantikan popok bayi sampai melakukan pekerjaan rumah tangga. Dan dukungan informative, yaitu suami memberikan nasehat, petunjuk atau umpan balik kepada istrinya mengenai masalah nifas (Friedman,1998).
Tidak adanya dukungan suami pada perawatan masa nifas akan menyebabkan ibu merasa tidak diperhatikan dan tertekan misalnya suami lebih perhatian pada bayi daripada istrinya, suami tidak perduli jika istri capek atau setres saat merawat bayinya, suami tidak berpartisipasi menemani istri untuk control, suami protes terhadap perubahan bentuk tubuh istrinya, suami tidak mengingatkan istri untuk makan-makanan yang bergizi dan istirahat cukup. Tekanan yang dirasakan ibu nifas tersebut jika dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan ibu terjadinya stres dalam masa nifas,sehingga bisa memunculkan sikap negative dalam masa nifas dan menimbulkan perilaku yang kurang baik dalam menjalani masa nifas seperti tidak mau makan, tidak mau memeriksakan ketenaga kesehatan,dan akan berdampak buruk terhadap kesehatan dirinya (saleha 2009).
Suami dan tanggung jawab
kesehatan reproduksi
Di indonesia masih sangat jarang ditemukan peran serta
pria dalam kesehatan reproduksi. Kurangnya kesadaran pria dalam hal kesehatan
reproduksi memang tidak terjadi begitu saja. Ujung permasalahan dari semua itu
adalah faktor budaya yang justru “memanjakan suami”, dalam artian perempuan
adalah “pendamping setia” yang sudah selayaknya bertanggung jawab soal
kesehatan reproduksi sendiri. (Gema
Partisipasi Pria Nomor 3/III/2004)
Pengambilan
Keputusan Dalam Keluarga
Keputusan yang diambil seseorang, bukan
merupakan keputusan yang mendadak, tetapi sudah melalui proses berpikir, atau
suatu keputusan yang diambil merupakan hasil seleksi berpikir yang ditentukan
oleh keinginan, harapan dan pengalaman-pengalaman masa lalu. Itulah yang nantinya
akan menentukan bagaimana bentuk dukungan yang akan diberikan oleh seseorang
terhadap keputusan yang diambil dan hal ini tidak terlepas dari persepsi yang
dimiliki seseorang (Koentjoroningrat,
1985).
Saparinah Sadli mengatakan bahwa
keseluruhan pengalaman, motivasi, sikap yang relevan dengan stimulus yang
berasal dari dalam diri seseorang maupun di luar dirinya, akhirnya terlihat
dalam bentuk tindakan/tingkah laku. Untuk memenuhi keinginan atau harapannya
seseorang berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan dukungan dalam proses
reproduksi (kehamilan dan persalinan) yang aman.
Menurut
Mira Diarsi (1995), masalah kesehatan reproduksi perempuan bertumpu pada
dua hal, yakni ketidakberdayaan perempuan untuk mengambil keputusan mengenai
apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya, dan kontrol terhadap tubuhnya tidak
pada perempuan itu sendiri termasuk kehamilan dan persalinan. Kesehatan
Reproduksi perempuan tidak dapat dilepaskan dari kondisi pekerjaan, pendidikan,
dan juga karakteristik sosial ekonomi. Ketiga hal ini saling terkait dalam
menentukan apakah perempuan mampu dan berdaya membuat keputusan tersebut (Zohra A Baso, 1997).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar